حكم الزواج
لقد قضت الفطرة التى فطر الله
الناس عليها بضرورة الطقاء الذكور بالإناث دفعاالى بقاء النوع الإنسا نى,
ليعمرالكون الذى سخره الله لأبناء هذا الكون، مافى السموات وما فى الأرض فضلا منه
وكرما، كما ان كلا من الزوجين يجد الراحة والاستعانة بصاحبه، بالإضافة الى ان
المجتمع الصلح لايقوم الا اذا تكون من اسرسليمة صالحة، واساس الأسرة التى تكون على
هذا النحوهوالزواج، فبسببه يتكون النشء، وبسببه ايضا لايحدث تشريد للأولاد،
ولاتشتيت للأسر، بخلاف السفاح الذى لايعرف فيه الأولاد لهم اباء ولا اهلا يقومون
على تربيتهم التربية السليمة، وفى هذا خطورةعلى المجتمع كله حيث يقوم بالانتقام نه،
ظانين انه السبب الأول فى وجودهم على هذه الصورة السيئة، اما فى ظل الزواج السرعى
فان كلامنهم ينشآ فى احضان ابويه وينموفى ظل اسرته، ويظل كذلك حتى يبلغ اشده، لأن
النهج الذى رضيه الإسلام هو النهج السليم الذى يلائم طبيعة البشر.
والزواج فيه حفظ للنفس البشرية
ولايتم ذلك إلابالتناسل، لأن الزواج وإن كان يقصد به استمتاع كل من الزوجين
بالاخر، إلاان هذه المتعة لاتقصد لذاتها، وانماهى وسيلة للذرية والنسل، والسكن بين
الزوجين والانس بلأسرة، وفى هذا يروى عن معقل بن يسار ان الرسول صلى الله عليه
وسلم قال: (تزوجوا الودود الولود فإنى مكاثربكم الأمم)، فالزواج يحصن النفس
ويبعدها عن انتهاك الحرمات، وذلك بإباحة ان يقضى كل واحد حاجته الجنسية عن طريق
حلال، فليس اضر بالمجتمع ولاادعى إلى فنائه، ولا اشد تاثيرا فى كيانه من النتشار
الفسوق وتراك حبل الشباب ليسير حسب هواه، وايضا يكون سباب فى كثرة النسل، يقول صلى
الله عليه وسلم (سوداء ولود خير من حسناءعقيم)، من اجل ذلك تولى الشرع الحكيم وضع
قواعد عقد الزواج وتحديد احكامه، ثم احاطه بعناية ليشعر الزوجان انهما يرتبطان
برتبطان برباط مقدس يظلله الدين فى كل خطوة من خطواته، فيقيمان احكامه عن رضاء
واحتيار، فطلب من راغب الزواج ان يختار شريكة حياته فلا ينظر الى الجميلة فقط، بل
يرتبط بذات الدين والخلق الحسن، وان كان الجمال مطلوبا إلاانه ليس هوالهدف الاصلى،
بل لابد من الدين، لذا يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: (......فاظفر بذات الدين
تربت يداك)، ويقول صلى الله عليه وسلم: (....ولأمة سوداء ذات دين افضل)، وغير ذلك.
والزواج تعتريه الا حكام
الشر عية الخمسة، وذلك حسب حالةالانسان من حيث الر غبه فيه والقدرة عليه اوالعجز
عنه وعن مسئو ليته
الندب: الاصل ان الزواج مندوب وهذا قول
الجمهور واوجبه الظهر يه.والاصح قول الجمهور لان بعض الصَحَابَةِ لم يتزو جوا
وخصوصا من النساءاللا تى فقد ن ازو جهن فلو كان واجبا لأ لزمهن الرسول صلى الله
عليه وسلم اوالصحابة من بعده بدلك ;و يتحقق الندب لمن كان تائقا للزواج وقادرا عليه; ولكنه يامن على نفسه من ارتكاب المحر مات فيكو
ن الزواج افضل من التخلى للعبادة لان الاسلا م يتبذ الرهبنة، يقو ل الرسول صلى
الله عليه وسلم : ( ان الله ابد لنا بالرهبانية الحنيفية السمحة ) رواه الطبرا ني،
وقال صلى الله عليه و سلم: ( يامعشر الشباب من ااستطاع منكم الباءة فليتزوج.....) روه الجمعا عة ، والباءة:
القدرة على الجماع ومؤنة الزوج ماديا، وقال اايضا صلى الله عليه وسلم: (تزوجوا فانى
مكا ثربكم الامم ولاتكونواكرهبانية النصاري) رواه البيهقى من طريق ضعيف .
HUKUM
PERNIKAHAN
Fitrah
manusia yang telah ditetapkan oleh Allah, menetapkan bahwasanya seorang
laki-laki pasti bertemu dengan seorang perempuan untuk mendorong
keberlangsungan manusia agar dunia yag telah diciptakan oleh Allah untuk
manusia menjadi ramai, adalah sesuatu di langit dan di bumi sebagai anugerah
dari-Nya, sebagimana sepasang suami istri yang menemukan kedamaian dan saling
membutuhkan, dengan bertendensi bahwasanya masyarakat yang baik tidak akan
terwujud kecuali jika terdiri dari keluarga yang baik, sedangkan pondasi suatu
keluarga sebagaimana tersebut adalah “pernikahan”, karena dengannya akan
tercipta suatu pertumbuhan, dan karenanya pula tidak akan terjadi pengusiran
terhadap anak-anak dan tercerai-berainya keluarga. Beda halnya dengan perzinaan
yang dengannya seorang anak tidak akan mengetahui ayahnya, tidak pula tahu
keluarga yang akan mendidik mereka dengan pendidikan yang baik. Dan di dalam
perzinaan terdapat bahaya terhadap semua masyarakat yang akan menyebabkan
penyiksaan, mereka akan menyangka bahwasanya perzinaan adalah faktor utama dari
penyiksaan tersebut. Adapun di dalam naungan pernikahan secara syari’at, mereka
akan tumbuh di bawah asuhan kedua orang tuanya, dan bertumbuh kembang dalam
naungan keluarga, dan akan terus seperti itu hingga sampai dewasa, karena jalan
yang diridhoi oleh islam adalah jalan keselamatan yang sesuai dengan tabiat
manusia.
Dengan
pernikahan harga diri manusia akan terjaga, dan itu tidak akan sempurna kecuali
dengan beranak pinak, karena sekalipun pernikahan dimaksudkan adalah kenikmatan sepasang suami istri, akan
tetapi itu bukanlah tujuan utama, karena ia adalah perantara adanya keturunan,
keharmonisan diantara suami-istri dan kedamaian di dalam keluarga; dalam hal
ini diriwayatkan dari sahabat Mu’aqil bin Yasar bahwasanya Rosulullah bersabda
: ( Nikahilah seorang wanita yang ramah dan subur, karena aku adalah nabi yang
terbanyak umatnya), Jadi pernikahan dapat menjaga harga diri dan menjauhkan
diri dari melanggar hal-hal yang diharamkan, dan pernikahan itu dalah hal yang
memperbolehkan seseorang untuk melakukan keinginan biologisnya dengan cara yang
halal, maka pernikahan tidak akan meresahkan masyarakat, tidak mendorong pada
kerusakan, tidak menjadi faktor di dalam tersebarnya kebrutalan, dan meninggalkannya
hubungan para pemuda yang berjalan menuruti hawa nafsunya, dan pernikahan itu
menjadi faktor dalam banyakya keturunan. Rosulullah SAW bersabda: ( Wanita-wanita
yang berkulit hitam namun subur itu lebih baik daripada wanita-wanita yang
cantik namunmandul). Karena itu hukum syari’at meletakkan aturan-aturan dalam
akad pernikahan dan menentukan hukum-hukumnya. Kemudian syari’at meliputinya
dengan suatu upaya agar suami-istri merasa bahwasanya keduanya diikat dengan
ikatan yang suci dan dinaungi dengan agama dalam setiap jejak langkahnya,
lantas menegakkan hukum-hukum tersebut dengan senang dan suka rela. Maka
seseorang yang akan menikah hendaknya untuk memilih pasangan hidupnya dengan
tidak memandang kecantikannya saja, tetapi memilih seorang wanita yang beragama
dan berbudi pekerti yang baik. Sekalipun kecantikan itu dituntut namun bukanlah
menjadi tujuan yang utama, akan tetapi diharuskan yang beragama, karena itu
Rosulullah bersabda: (…..pilihlah wanita yang beragama, niscaya engakau akan
bahagia), dan Rosulullah juga bersabda: (….sungguh seorang budak berkulit
hitamnamun beragama itu lebih utama), dan lain sebagainya.
Dalam
pernikahan terdapat 5 hukum, hukum tersebut menurut keadaan seseorang yang
ditinjau dari inginnya menikah, mampu menafkahi atau tidak mampunya melakukan
tanggung jawabnya.
1.
Sunah; pada dasarnya pernikahan itu sunah, dan itu adalah pendapat dari
jumhur ulama, namun madzab Ad-Dhohiri menghukuminya wajib, pendapat yang lebih
benar adalah pendapat jumhur ulama, karena sebagian sahabat tidak menikah,
lebih-lebih janda yang ditinggal suaminya. Maka andaikan pernikahan itu wajib
niscaya Rosulullah SAW. akan mewajibkan janda-janda tersebut untuk menikah,
begitu juga para sahabat niscaya akan diwajibkan juga. Hukum sunah tersebut
bagi seseorang yang ingin menikah dan mampu namun ia merasa aman dari melakukan
hal-hal yang diharamkan, maka pernikaha tersebut lebih utama daripada tidak
menikah karena bertujuan ibadah, dikarenakan islam mengesampingkan kerahib-an
(kependetaan). Rosulullah SAW bersabda: (Sesungguhnya Allah telah menggantikan
kita dengan kerahib-an yang lurus dan damai) H.R Thabrani. Dan Rosulullah SAW bersabda:
(Wahai pemuda, barang siapa dari kalian mampu, maka menikahlah…) H.R Jamaah.
Kata al baa-ah mempunya arti mapu melakukan hubungan suami-istri dan
mampu memberikan nafkah materi dalam pernikahan, dan juga Rosulullah bersabda:
(Menikahlah karena sesungguhnya aku adalah nabi yang paling banya umatnya, dan
janganlah kalian seperti pendeta-pendeta Nasrani) H.R Baihaqi dari sanad yang
dhoif.
N.B: tugas matkul yang bener2 berkesan,,,,hehehhe.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
what do you think???